Wasiat Terakhir Kafka


Menjelang kematiannya, Franz Kafka, penulis The Metamorphosis yang tersohor itu meminta kawannya, Brod, untuk membakar semua karyanya. Entah apa yang melatarbelakangi, wasiat itu terdengar sangat mengerikan. 

Saat itu, Kafka tengah sekarat di sanatorium akibat mengidap TBC. Dan ia tak memiliki cukup kemampuan untuk membakar karya-karyanya sendiri. Ia percaya pada Max Brod,seseorang yang pernah menyarankan melenyapkan sebagian karyanya. Tetapi, ketika Kafka meninggal, Brod justru tidak melakukannya. Belakangan, naskah-naskah yang belum dipublikasikan itu menjadi rebutan pihak asli waris dan perpustakaan nasional Israel, sebelum akhirnya perpustakaan nasional memenangkannya. 

Milan Kundera, dalam esai sastranya mengomentari wasiat Kafka yang ganjil itu."Sepanjang dia belum sekarat," kata Kundera, "seorang penulis tak memiliki alasan apapun untuk menghancurkan sesuatu yang sudah dia tulis." Karena sejatinya, tidak pernah ada tulisan yang benar-benar gagal. Ia bisa menjadi modal dan inspirasi bagi tulisan-tulisan berikutnya. 

Dengan demikian, apakah wasiat Kafka dapat dibenarkan? Semua sepakat, bahwa setiap penulis memiliki hak penuh atas karya-karyanya. Ia bisa membakar dan membuangnya kapan saja. Sebab penulis adalah "Tuhan" bagi teks yang diciptakannya. Tetapi kepedihan dan kengerian akan menjalar dengan cepat pada setiap orang yang mendengarnya. Apalagi ketika mengetahui bahwa karya itu adalah karya yang lahir dari tangan seorang penulis besar. 

Raibnya karya, tersebab dicuri atau file-file yang terhapus permanen telah dimufakati sebagai musibah terbesar bagi penulis. Saya pernah mengalaminya dan banyak penulis yang saya kenal mengalami kejadian yang sama. Sebagian dari mereka ada yang berhasil bangkit setelah terpuruk dan putus asa sekian lama, sebagian lagi menyerah dan menanggalkan semua impiannya menjadi penulis terkenal. Karya, tidak lahir tiba-tiba dari langit. Ia diperjuangkan dengan susah payah hingga akhirnya benar-benar lahir sebagai persembahan pada pembaca. Penulis telah mengalami penderitaan dan kelelahan yang luar biasa dalam proses melahirkan karya-karya inspirasional dan menakjubkan. Bagaimana mungkin "anak" yang baru lahir itu kemudian ia bunuh dengan kejam?

Tapi kita tidak tahu isi pikiran Kafka. Dan tak seorang pun yang mengetahuinya. Termasuk Max Brod dan Kundera. Kita hanya bisa menduga-duga. Barangkali Kafka menganggap bahwa karya yang tersisa adalah karya yang tak layak terbit. Atau ia tak ingin ada karya yang lahir ke tengah-tengah khalayak setelah kematiannya. Kenyataannya, Brod, seorang kawan yang juga penggemar Kafka, tak pernah mengabulkan keinginannya. Tindakan Brod, kata Kundera, justru bisa diartikan sebagai bentuk kesetiannya pada Kafka. Karena tetap memeliharanya, adalah cara mengabadikan Kafka dalam dirinya. 

Sidoarjo, 14 Juni 20021

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Wasiat Terakhir Kafka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel