Televisi, Musuh Bebuyutan Penulis dan Penggila Buku?

gambar pinterest.com
Aku, kata Stephen King dalam On Writing, belajar membaca dan menulis sebelum mereka belajar menyantap sajian sampah televisi yang cenderung merugikan. Ini mungkin tidak penting, lanjutnya, jika kau baru memulai menjadi penulis dengan pengaruh televisi engkau mungkin bisa bertindak lebih buruk.

King tidak sedang bergurau. Nyatanya, televisi telah sukses melahirkan para pemalas. Mereka yang diam-diam menganggap buku sebagai telor busuk sementara televisi adalah brownies keju yang lezat. Juga mereka yang berkali-kali curhat tak ada waktu untuk menulis sementara berjam-jam matanya terbelalak di depan kotak sialan itu.

Televisi, seperti makanan instan yang bisa langsung ditelan tanpa perlu capek-capek memasak, ia membuat manusia malas berpikir. Apalagi, sebagian besar yang mereka suguhkan adalah hiburan. Sinetron-sinetron lebay yang membuat penontonnya menangis bombay, iklan-iklan yang menggiurkan jauh melampaui kualitas produk yang sebenarnya, hingga infotainment yang menawarkan bahan baru buat gosip ibu-ibu. Bahkan stasiun yang banyak menyuguhkan berita pun dinikmati sebagai dagelan pelepas lelah di warung-warung kopi, di kafe, di terminal. Begitulah yang saya saksikan.

Sudah setahun lebih televisi saya mati dan tidak pernah diperbaiki. Saya merasa lebih produktif menulis, lebih banyak buku yang bisa saya baca. Meski saat televisi saya masih menyala sekalipun saya tetap jauh lebih menggilai membaca. Saya tidak anti-televisi, sekali-kali saya masih menontonnya lewat streaming. Saya hanya prihatin jika televisi menjadi racun bagi generasi bangsa yang sudah sekarat ini.

Sebagian dari kalian mungkin tidak terima dengan pernyataan ini dan berkata, bukankah banyak manfaat yang bisa didapatkan dari televisi? Baiklah, mari kita berhitung sejauh mana manfaat mendominasi mudharat? Bukankah anak-anak kalian belajar sesuatu yang buruk dari telivisi? beberapa orang membunuh dan melakukan tindak kriminal lainnya karena terilhami oleh suguhan televisi? manfaat apa yang didapatkan dari sinetron percintaan ala remaja itu selain mengajarkan bahwa dengkul lebih keren dari isi kepala? Mari kita duduk dan berhitung, betapa banyak hal yang bisa dilakukan selain membelalakkan mata di depan tayangan-tayangan murahan. Dan begitu banyak penulis dan pembaca pemula yang telah mati sebelum kuncupnya menjadi bunga. Mereka mati terbius oleh pesona layar kaca gemblung itu.

Baik, jika kalian memang tidak bisa berhenti menonton, tidak masalah. Tapi setidaknya cukupkan diri dengan satu jam saja. Maksimal satu jam, untuk benar-benar menonton hal yang penting, yang tidak mungkin kalian dapatkan selain di televisi. Selebihnya, membacalah lebih banyak. Para pembaca banyak buku biasanya terobsesi untuk bisa menulis. Dan saat kalian benar-benar memantapkan diri untuk menulis, kalian butuh waktu khusus untuk menumpahkan isi pikiran kalian. Jangan beralasan tidak menulis karena kesibukan sementara kalian masih sempat menyodorkan kepala di depan kotak warna-warni itu. 1 jam yang kalian gunakan untuk menonton televisi itu setara dengan 3 halaman tulisan-- setidaknya, yang bisa kalian bikin.

Beberapa murid saya di kelas menulis, ketika ditanya mengapa tidak mengumpulkan tugas menulis, hampir semua dari mereka menjawab "Tidak ada waktu!" sementara mereka masih punya waktu memelototi drama kesayangan.

Tapi itu semua pilihan, jika kalian ingin menjadi penulis, kalian harus disiplin menulis. Jika godaan televisi masih terlampau kuat dan tak bisa diatasi dengan cara apapun, perhatikan saran saya baik-baik: buang televisi itu ke tempat sampah, atau rusaklah dengan cara apapun. Tapi jika kau masih pelajar dan televisi itu milik ayahmu, setidaknya engkau berdoa dengan sungguh-sungguh agar televisi itu segera rusak atau kau diijinkan pindah ke kosan yang damai, tempat imajinasi dan kreativitasmu bisa berkembang seperti cendawan di musim hujan. (@RafifAmir)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Televisi, Musuh Bebuyutan Penulis dan Penggila Buku?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel