Writer's Block; Kalimat Pertama yang Menyiksa


Hal yang dibutuhkan oleh penulis setelah motivasi, adalah ide, kemudian kalimat atau paragraf pertama. Biasanya, yang terakhir ini seringkali menjadi "hantu" bagi penulis pemula. Mereka menulis satu-dua kalimat lantas merasa kurang bagus lalu dihapus. Mereka menulis lagi, kurang sreg, dihapus lagi. Setelah sekian jam, tak ada satu kalimat pun yang dihasilkan. Sementara itu, ide sudah menguap entah kemana. Semangat menulis pun anjlok. Hanya bisa pasrah dan mengutuki diri sendiri.

Sebenarnya, kegelisahan seperti tidak hanya dirasakan oleh penulis pemula. Penulis "senior" pun tak sedikit yang mengalaminya. Apalagi, jika ia penulis yang perfeksionis; ingin kalimat pertamanya selalu tampil bersinar dan memukau. Dan ia adalah tipe penulis yang enggan merevisi naskah. Ini akan terasa cukup menyiksa.

Tak dapat dipungkiri, bahwa setelah judul, kalimat pertamalah yang akan dilirik oleh pembaca. Itu akan sangat menentukan, apakah mereka akan lanjut membaca atau berhenti saat itu juga. Jika judul adalah penampakan keseluruhan sebuah toko, maka kalimat pertama atau yang biasa disebut juga dengan lead adalah etalasenya. Etalase yang menarik akan menggugah minat pembaca untuk menjelajahi semua isi toko.

Lalu bagaimana cara membuat kalimat pertama yang keren?

Ini yang semalam juga ditanyakan oleh seorang remaja SMA, peserta School Visit (SV) Menulis Faber-Castell dari Waru. Bagaimana membuat lead yang menarik? Sebenarnya mudah, apa yang kita baca dan dengar akan sangat memengaruhi karakter tulisan kita, termasuk kalimat pertamanya. Coba renungkan, mengapa pembuka seperti "Pada Suatu Hari" atau "Pada Zaman Dahulu" menjadi favorit sebagian orang dalam memulai menulis sebuah cerita? karena kita terbiasa membaca dan mendengarkan dongeng dengan kalimat pertama seperti itu. Jadi, kunci pertama untuk membuat kalimat pembuka yang menarik adalah, baca sebanyak mungkin karya penulis-penulis ternama, karya-karya yang bagus, karya dimuat media-media besar. Percayalah, ini akan sangat membantu dalam proses penciptaan kalimat pertamamu.

Kalau belum muncul juga kalimat pertama yang pas, tirulah kalimat pertama milik penulis lain yang menurutmu bagus, modifikasi sedikit; sesuaikan dengan tema dan genre tulisanmu. Cara ini mungkin akan lebih berhasil. Tapi jangan gunakan ini sebelum kau berusaha menemukan kalimat pertamamu yang orisinil. Jika banyak membaca, saya yakin, ide rangkaian kalimat pertama yang bagus akan tiba-tiba terbit di kepala. Dan biasanya, ide bagus yang tiba-tiba menyeruak itu tidak bisa tergantikan. Jangan diotak-atik lagi, kecuali kau menemukan yang lebih baik tanpa disengaja.

Secara teori, sudah banyak artikel yang mengupas tentang bagaimana membuat kalimat pertama yang oke punya, diantaranya:

1. Membuka dengan pertanyaan, sehingga membuat pembaca penasaran dan memutuskan membaca karyamu sampai selesai.
2. Membuka dengan deskripsi. Bisa dengan deskripsi latar tempat dan suasana yang indah, deskripsi fisik dan karakter tokoh yang unik. Jika pembaca sudah merasa senang dan tertarik, ia pasti akan membaca kelanjutannya.
3. Membuka dengan dialog. Dialog yang menghentak atau misterius, ada sense of humor dan konyol, memuat hikmah biasanya sangat digemari.
4. Membuka dengan quote tokoh ternama. Ini juga sudah banyak yang menggunakan dan berhasil. Quote tokoh terkadang malah bisa menjadi inspirasi untuk membuat sebuah tulisan.
5. Membuka dengan narasi yang menyentuh. Misalkan mengangkat sisi humanis tokoh, pengalaman penulis yang berkesan,  atau subjektivitas yang segaris dengan isi kepala pembaca, menggugah empati dan solidaritas.

Masih banyak lagi cara membuat kalimat pertama yang tidak akan saya sampaikan semua di sini. Bagi saya, teori-teori seperti adalah nomer sekian. Yang terpenting, banyak membaca dan mulailah menulis tanpa harus merasa ketakutan dengan kalimat pertama. Nikmati saja semudah mengunyah roti bakar tanpa harus khawatir terbakar. Jika kau sudah menghasilkan tulisan tanpa terbebani dengan kalimat pertama, menurut saya itu adalah keberhasilan tersendiri. Tak peduli kalimat pertamamu itu jelek menurut para ahli, kalimat pertamamu amburadul, atau masih menggunakan "Pada Suatu Hari". Biarkan saja. Semua akan ada waktunya. Nikmati prosesnya. Ada waktunya, kau akan merasa bosa sendiri dengan "Pada Suatu Hari" dan kalimat pertama yang itu-itu saja. Biarkan dirimu produktif, toh selesai menulis, kalimat pertamamu masih bisa diedit.

Atau jika siksaan itu sudah demikian mendera, kenapa memaksakan diri harus menulis secara urut. Dalam membuat cerpen, Budi Darma mengaku seringkali menulis dari tengah. Artinya, tak harus dari paragraf pertama. Kau bisa langsung memulai cerpenmu, bahkan, dari ending.

Ohya, kalimat pertama artikel ini pun mungkin kurang menarik. Sama sepertimu, saya tak ambil peduli. Jika "algojo" kalimat pertama memenggal kesempatan saya untuk menulis dan akhirnya saya tak dapat menyelesaikan sebuah tulisan, maka saya akan memenggal kepala algojo itu terlebih dahulu. Intinya, kalimat pertama penting tapi bukan segalanya. Berhasil menciptakan tulisan lebih prioritas daripada mandeg karena terbelenggu oleh kalimat pertama, yang bisa saja menghancurkan mimpi besarmu menjadi seorang penulis. (@rafif_amir)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Writer's Block; Kalimat Pertama yang Menyiksa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel