Perjalanan dan Karya-Karya Brilian


Ernest Hemingway lahir di Amerika dan menghembuskan napas terakhir di Amerika. Tapi cintanya tertambat di Paris.

3 September 1921, di usia 22 tahun ia menikah. Atas saran Anderson, ia memilih Paris sebagai tempat bulan madu. Tetapi ia tinggal di Paris tidak hanya sebulan, melainkan satu tahun. Dari Paris, Hemingway memulai karirnya yang gemilang.

Karya pertamanya, "Three Stories and Ten Poems" diterbitkan di Paris. Paris juga menjadi tempat perjumpaannya dengan penulis-penulis kenamaan; James Joyce, Gertrude Stein, dan Ezra Pound. Novel pertamanya "The Sun Also Rises" adalah karya brilian yang ia torehkan selama berada di kota terindah di dunia itu*

Hemingway takjub dengan eksotisme Paris, sehingga dalam kumpulan reportasenya, A Moveable Feast ia menulis: "Jika kamu cukup beruntung untuk hidup di Paris sewaktu muda, maka ke mana pun kamu pergi dalam sisa hidupmu, itu akan tetap melekat. Paris adalah pesta yang bergerak."

Tetapi ternyata tidak hanya Paris. Masterpiece Hemingway, The Old Man and The Sea yang mengantarnya meraih Pulitzer pada tahun 1952 hingga meraih nobel sastra pada tahun 1954 juga tidak lahir di Oak Park, Illinois--kota kelahirannya. The Old Man and The Sea yang oleh Hemingway disebut sebagai the best I can write ever for all of my life ditulis di Venice, Italia.

Hemingway suka berpetualang, dari satu negara ke negara lain. Mulai Prancis, Kuba, hingga Afrika. Berbagai peristiwa ia alami. Tidak hanya yang menyenangkan, melainkan pula yang mengerikan, seperti kecelakaan pesawat yang hampir merenggut hidupnya.

Perjalanan menjadi sumber inspirasi terbesar Hemingway, melahirkan karya-karya besar, yang menobatkannya sebagai penulis dan sastrawan terbesar di zamannya.

Jonah Lehrer mengungkapkan hasil penelitiannya di The Guardian pada 14 Maret 2010, bahwa ketika engkau pergi ke suatu tempat, entah di mana pun, akan memicu berpikir yang efektif. Itu karena kita menemukan cara-cara baru dalam menjalani hidup. Bertemu dengan tempat-tempat baru, orang-orang baru dengan karakter, gaya tutur, bahasa, tradisi dan budaya yang belum pernah kita temui sebelumnya. Perjalanan yang menghancurkan rasa jenuh dan bosan yang seringkali menjadi "batu besar" bagi lahirnya kreativitas.

Lain lagi dengan Gao Xingjian, peraih Nobel Sastra tahun 2000. Soul Mountain adalah novel cemerlang yang mengantarnya pada penghargaan bergengsi itu. Soul Mountain mulai ditulis tahun 1982, saat karya-karyanya dilarang oleh rezim komunis Tiongkok. Ia melakukan pengembaran panjang menyusuri pedesaan di Cina, menyusuri hutan, lembah, dan gunung sampai ia merasakan kedamaian dan kepuasan batin, setelah tekanan demi tekanan mendera jiwanya. Perjalanan membuat Gao bebas. Hasrat menulisnya harus tetap hidup di tengah intimidasi yang berusaha membunuh kreativitasnya. Pengembaraan menjadi jalan satu-satunya.

Setiap perjalanan adalah pintu pembebasan. Setiap hari kita dipenjara oleh rutinitas. Bahkan jiwa dan pikiran kita dibelenggu oleh setumpuk tugas, pekerjaan kantor, dan deadline. Perjalanan membuka ruang kontemplasi ke dalam diri. Perjalanan mengantarkan kita pada dimensi lain dari hidup yang pada akhirnya mengantar kita --para penulis-- melahirkan karya-karya cemerlang, seperti yang ditorehkan Hemingway dan Gao Xingjian.

Sidoarjo, 9 Januari 2020

*) Paris dinobatkan sebagai kota terindah di dunia pada tahun 2019 versi Flight Network.

sumber gambar: ekseleran.co.id

Berlangganan update artikel terbaru via email:

8 Responses to "Perjalanan dan Karya-Karya Brilian"

  1. jadi kalau mau kreatif kudu rajin jalan2 ya. apa kabar yg ngantor dan gak pernah dikirim dinas keluar?

    BalasHapus
  2. Setujuuu. Bukan berarti harus selalu jalan-jalan untuk dapat inspirasi, tapi dengan jalan-jalan bisa memperbesar peluang untuk dapat inspirasi yang berbeda.

    BalasHapus
  3. Saya lupa-lupa ingat apakah sudah pernah baca The Old Man and The Sea ini atau belum. Tapi memang itu yang sering dibahas di beberapa pelajaran.

    BalasHapus
  4. Saat ini belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan, jadi pengembaraanku lewat buku-buku yang kubaca saja :D

    BalasHapus
  5. Iya, perjalanan membuat segalanya terasa baru, ketemu orang baru, tempat dan suasana berbeda

    BalasHapus
  6. Aku berharap suatu saat, bisa menjadi seperti dia. Meskipun mungkin telat bermimpi dan berharap demikian, karena sampai sekarang belum punya karya yang bisa dibanggakan

    BalasHapus
  7. Hemingway bagiku identik dg The Old Man and The Sea. Ternyata ia jatuh cinta dg Paris ya. Sebegitu kuat energinya hingga karya2nya bermunculan di sana. Bagaimana sebuah kota bisa menginspirasi seseorang, luar biasa.

    BalasHapus
  8. Ternyata perjalanan memberikan inspirasi yang besar bagi seorang penulis ya. Pengen juga melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lainnya, tapi sayangnya saya bukan penulis fiksi seperti Hemingway

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel